Korea Utara Menetapkan Untuk Syarat Pengunaan Bom Nuklir

Korea Utara Menetapkan Untuk Syarat Pengunaan Bom Nuklir

Korea Utara Menetapkan Untuk Syarat Pengunaan Bom Nuklir
Korea Utara menuntut agar mereka tidak menjadi pihak utama yang menyerahkan senjata atom. Meskipun demikian, Pyongyang tidak akan menahan diri untuk menggunakan senjata atom jika mereka merasa terancam. Sementara itu, Korea Selatan menekankan bahwa mereka tidak ingin memiliki senjata atom.

Pendeta Garda Korea Selatan Shin Won-sik mengatakan Pyongyang telah menunjukkan kemampuan untuk menerbangkan roket jarak jauh antarbenua (ICBM). “Bagaimanapun, belum ada pemeriksaan apakah roket tersebut dapat memasuki iklim sekali lagi dan mencapai sasarannya,” katanya di Seoul, Kamis (21/12/2023), seperti dikutip oleh organisasi berita Yonhap.

Penilaian ini disampaikan setelah Korea Utara menghentikan ICBM pada pekan ini. Pyongyang menegaskan bahwa roket tersebut dapat mencapai berbagai wilayah perkotaan di AS.

Shin mengatakan Korea Selatan menjawab penembakan tersebut dengan memperkuat partisipasi dalam pengelolaan atom Korea Utara dengan Amerika dan Jepang. Seoul tidak ingin memiliki senjata atom sendiri. Pasalnya, AS telah berjanji untuk melindungi Korea Selatan dari serangan nuklir dari pihak lain.

Pembicaraan mengenai kepemilikan senjata atom sendiri layak untuk dikaji mengingat kemungkinan payung atom AS untuk Korea Selatan sudah tidak ada lagi. Sejujurnya, AS dan Korea Selatan sedang sepenuhnya memperbaiki kolaborasi atom mereka.

Pelopor Korea Utara Kim Jong Un pernah menekankan bahwa kekuatan atom Korea Utara hanya untuk pengamanan. Bagaimanapun, Korea Utara tidak akan menahan diri untuk menggunakan semua kemampuannya dengan asumsi keunggulan utamanya dirusak oleh pihak lain.

Pada bulan September 2022, Korea Utara mengeluarkan peraturan terkait penggunaan senjata atom. Undang-undang tersebut menggarisbawahi bahwa senjata atom Korea Utara sebaiknya digunakan dengan asumsi terdapat hasutan yang signifikan.

Undang-undang tersebut juga menolak memberikan senjata atom atau inovasi ke negara lain. Senjata atom dibuat untuk mengurangi pertaruhan konflik atom dengan mencegah kesalahan di antara negara-negara pemilik senjata atom dan penyalahgunaan senjata atom.

Pendeta Perlindungan Korea Utara pernah menyatakan bahwa pengiriman pesawat AS yang membawa kapal perang, pesawat penting, atau kapal selam berbahan bakar atom ke Korea Selatan dapat dipandang sebagai hasutan. Pengaturan tersebut memenuhi syarat bagi Korea Utara untuk menggunakan senjata atomnya.

Pada tahun 2017, ketika mereka mengirimkan ICBM yang paling berkesan, Korea Utara mengambil langkah untuk menyerang AS dengan senjata nuklir jika AS memberikan indikasi sekecil apa pun untuk menggulingkan Kim. Korea Utara juga mengambil langkah-langkah untuk memanfaatkan senjata atomnya untuk menenggelamkan Jepang.

Pada tahun 2022, peluang Korea Selatan akan dirusak oleh Kim Yo Jong. Adik kandung Kim Jong Un ini menyatakan bahwa Korea Utara tidak akan segan-segan menggunakan senjata atom kapanpun diincar oleh Korea Selatan.

Dalam aturan September 2022, ditegaskan bahwa Kim Jong Un menguasai sepenuhnya persenjataan atom Korea Utara. Dalam kasus apa pun, jika hierarki kepemimpinan atau kekuasaan Kim diremehkan, maka roket-roket tersebut dapat diledakkan.

Korea Utara secara konsisten berupaya Babe138 untuk menunjukkan bahwa Kim terus mengamati cadangan atom Korea Utara. Untuk melakukan hal ini, Pyongyang secara teratur mengkomunikasikan foto dan rekaman Kim yang mengamati ketentuan dan uji coba atom Korea Utara.

Korea Utara belum pernah mencoba senjata atom mulai sekitar tahun 2017. Meskipun demikian, para peneliti percaya bahwa Korea Utara terus mengirimkan uranium dan plutonium untuk hulu ledak atom. Dalam laporan Yayasan Sains dan Keamanan Dunia, Korea Utara memperkirakan mereka memiliki hingga 96 hulu ledak atom. Korea Utara memiliki berbagai jenis roket pengirim hulu ledak, termasuk Hwasong-18

Pada tahun 2021, Kim memamerkan bahwa Korea Utara akan memiliki opsi untuk membuat senjata atom standar dalam ukuran yang lebih sederhana dan ringan. Pada tahun 2023, Kim memamerkan bahwa Korea Utara akan memperluas senjata atomnya dan secara efisien memproduksi senjata atom strategis.

Korea Utara juga terus mengembangkan roket baru untuk membawa senjata atom, mengingat ICBM berbahan bakar cair dan kuat dalam jumlah besar dan mampu mencapai AS. Korea Utara juga mengembangkan roket jarak pendek.

Seorang pengamat masalah dan metodologi pemerintahan Korea Utara di Sejong Foundation, Seoul, Cheong Seong-chang, mengatakan Korea Utara siap untuk secara efisien memproduksi dan mengirim ICBM Hwasong-18 yang dikirim minggu ini. Satu tahun dari sekarang, Korea Utara kemungkinan besar akan melanjutkan penguatan tindakan pengamanannya.

Untuk melakukan hal ini, Korea Utara akan menguji ICBM berbahan bakar kuat dan roket jarak jauh yang diluncurkan dari kapal selam. Korea Utara juga seharusnya menguji ICBM multi-hulu ledak.

Korea Utara mengatur peragaan kembali konflik dengan menggunakan senjata atom. Dalam hal ini, tujuannya adalah untuk mengobarkan berbagai fokus di seluruh Korea Selatan. Suatu hari, Korea Utara meluncurkan dua roket jarak pendek ke laut yang difokuskan pada wilayah kekuasaan Korea Selatan.

Rekreasi konflik yang dilakukan Korea Utara (Korut) digelar beberapa jam setelah Amerika Serikat (AS) dan Korea Selatan (Korsel) menggelar latihan konflik bersama. Tindakan ini termasuk pesawat B-1B yang ditempatkan di korps Terbang AS.

“KPA (Militer Perorangan Korea Utara) mengadakan latihan serangan atom strategis yang meniru serangan bumi hangus terhadap ruang perang utama dan landasan pendaratan fungsional penjahat militer Korea Selatan) pada Rabu malam,” kata Kepala Staf KPA, seperti yang ditunjukkan oleh organisasi berita Korea Utara, KCNA, Kamis (31/8/2023).

Dalam penjelasannya, KPA mengatakan bahwa dua roket jarak pendek yang dikirim dari timur atas terminal Pyongyang Global Air secara efektif mencapai sasarannya. KPA juga menyatakan bahwa pengiriman roket tersebut adalah untuk mengirimkan pesan yang masuk akal kepada kelompok preman, sebagaimana Pyongyang menyebut Korea Selatan dan mitra-mitranya.

Pesan yang diharapkan adalah bahwa negara ini mempunyai kapasitas untuk melancarkan serangan balasan yang menimbulkan bencana besar. “Musuh dengan gaduh menyatakan bahwa latihan mereka merupakan penghalang jangka panjang terhadap Korea Utara dan menjadikan serangan yang direncanakan terhadap negara kita sebagai hasil yang biasa,” kata Kepala Staf KPA.

Peragaan kembali konflik terbaru Pyongyang terjadi ketika AS-Korea Selatan mengadakan kegiatan militer gabungan tahunan, Ulchi Opportunity Safeguards. Latihan tersebut akan berlangsung pada 21-31 Agustus 2023. Korea Utara menganggap kerja sama AS-Korea Selatan menimbulkan bahaya serius. Pyongyang juga mempertimbangkan latihan Perlindungan Peluang Ulchi untuk melakukan kembali intrusi terhadap negara tersebut.

Kepala Staf Koperasi Korea Selatan dalam penjelasannya mengatakan, kedua roket Korea Utara tersebut menempuh jarak sekitar 360 kilometer (km) hingga tiba di perairan pantai timur Daratan Korea. Pengiriman tersebut merupakan sebuah “hasutan signifikan” yang membahayakan keharmonisan dunia dan mengabaikan tujuan Kamar Keamanan PBB yang membatasi pengiriman barang balistik oleh Korea Utara. Oleh karena itu, pakar pengetahuan Korea Selatan dan AS menguraikannya secara lebih rinci.

Dinas Pengawal Jepang juga mengakui pengiriman Pyongyang. Kedua roket jarak pendek tersebut dikatakan telah menempuh jarak 400 kilometer pada ketinggian tertinggi 50 kilometer sebelum jatuh di luar zona moneter elit Jepang.

Sebelumnya, pada hari Rabu, Korps Terbang AS menerbangkan tidak kurang dari satu pesawat B-1B dalam latihan udara bersama dengan berbagai jet tempur Korea Selatan. Dalam pernyataan bersama dari kedua negara, latihan yang dilakukan di tepi barat Tanjung Korea menunjukkan sikap penjagaan yang terkonsolidasi dari kedua negara dan kewajiban AS terhadap perlindungan Korea Selatan.

Pengiriman B-1B pada hari Rabu minggu ini adalah yang kesepuluh yang dilakukan pesawat AS di Tanjung Korea tahun ini, menurut Dinas Garda Korea Selatan.

Sekitar waktu yang sama, militer Jepang juga dikatakan telah menyelesaikan latihan udara bersama dengan AS. Latihan udara ini melibatkan dua pesawat B-1B AS dan diselesaikan di perairan antara Jepang dan Tanjung Korea. Dalam penjelasan bersama kedua negara, kegiatan tersebut dimaksudkan untuk menunjukkan keyakinan kedua negara untuk segera menjawab krisis dan menjamin kemampuan reaksinya.

Beberapa hari yang lalu, militer tiga negara, yaitu Jepang, Korea Selatan dan Amerika Serikat, mengirimkan kapal perusak maritim untuk latihan perlindungan roket tiga dimensi di dekat daratan Korea. Langkah ini mengingat bahaya nuklir dan roket yang tidak dapat disangkal di Korea Utara.

Menanggapi kegiatan bersama ketiga negara tersebut, pelopor Korea Utara Kim Jong Un mendekati seluruh pasukan negaranya untuk selalu bersiap menggagalkan rencana penyerangan musuhnya. Laporan media yang terkait dengan pemerintah Korea Utara menyatakan bahwa Kim, dalam pidatonya pada peringatan Hari Angkatan Laut Korea Utara, menyatakan bahwa perairan di Daratan Korea menjadi tidak sehat dengan risiko konflik atom karena sikap kapal yang tidak bersahabat. AS dan mitranya di Asia Timur.